beberapa saat terakhir kini kita
sering kali mendengar cerita tabrakan ataupun kecelakaan baik itu kecelakaan
beruntun maupun kecelakaan sendiri, tingkat kecelakaan yang terjadi di
indonesia terutama kecelakaan yang terjadi di jalan raya merupakan tingkat kecelakaan
tertinggi dan memakan korban yang lebih tinggi daripada perang maupun kerusuhan
etnis. belakangan hari ini kita mungkin seperti kecelakaan yang di sebabkan
kelelahan maupun tingkat kesabaran yang rendah seperti yang dialami oleh
arie wibowo dengan motor gedenya menabrak korban yang bernama Tjarmadi (80
tahun) mengalami pendarahan di bagian kepala dan harus menjalani operasi namun
akhirnya tidak tertolong. oleh karenanya arie wibowo di tetapkan menjadi
tersangka, maupun kecelakaan tunggal motor gede yang dialami oleh UJE (ustad
jefri al bukhori). sedangkan mobil Nissan Juke Vs Daihatsu Xenia di Tol Kopo, Lima
Tewas dengan tersangka Muhammad Dwigusta Cahya (18). Baik arie
wibowo maupun muhammad dwigusta cahya , dalam kecelakaan ini menyebabkan korban
tewas sehingga akhirnya masuk proses selanjutnya. Dalam perkembanganya mengapa
di negara kita ini masih terjadi tingkat kecelakaan yang tinggi?
Menurut data dari Dalam dua
tahun terakhir ini, kecelakaan lalu lintas di Indonesia oleh Badan Kesehatan
Dunia (WHO) dinilai menjadi pembunuh terbesar ketiga, di bawah penyakit jantung
koroner dan tuberculosis/TBC. Data WHO tahun 2011 menyebutkan, sebanyak 67
persen korban kecelakaan lalu lintas berada pada usia produktif , yakni 22 – 50
tahun. Terdapat sekitar 400.000 korban di bawah usia 25 tahun yang
meninggal di jalan raya, dengan rata-rata angka kematian 1.000 anak-anak dan
remaja setiap harinya. Bahkan, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama
kematian anak-anak di dunia, dengan rentang usia 10-24 tahun.
Sebagaimana
diketahui, masyarakat modern menempatkan transportasi sebagai kebutuhan
turunan, akibat aktivitas ekonomi, sosial dan sebagainya. Bahkan dalam kerangka
ekonomi makro, transportasi menjadi tulang punggung perekonomian, baik di
tingkat nasional, regional dan lokal. Oleh karena itu, kecelakaan dalam dunia
transportasi memiliki dampak signifikan dalam berbagai bidang kehidupan
masyarakat.
Di
Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang meningkat setiap tahunnya dan
kelalaian manusia, menjadi faktor utama terjadinya peningkatan kecelakaan lalu
lintas. Data Kepolisian RI menyebutkan, pada 2012 terjadi 109.038 kasus
kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang, dengan potensi
kerugian sosial ekonomi sekitar Rp 203 triliun - Rp 217 triliun per tahun (2,9%
- 3,1 % dari Pendapatan Domestik Bruto/PDB Indonesia). Sedangkan pada 2011,
terjadi kecelakaan sebanyak 109.776 kasus, dengan korban meninggal sebanyak
31.185 orang.
Selain
korban kecelakaan lalu lintas lebih didominasi oleh usia muda dan produktif,
sebagian besar kasus kecelakaan itu terjadi pada masyarakat miskin sebagai
pengguna sepeda motor, dan transportasi umum. Data yang berbeda dari
Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) menyebutkan, kecelakaan pengendara
sepeda motor mencapai 120.226 kali atau 72% dari seluruh kecelakaan lalu lintas
dalam setahun, Dengan korban yang demikian, dampak sosial kecelakaan lalu
lintas adalah akan menciptakan manusia miskin baru di Indonesia, terutama
terjadi pada keluarga yang ditinggal suami dan atau orang yang sebelumnya
menjadi penopang hidup keluarga.
Pada
perspektif lain, kecelakaan lalu lintas juga dapat dijadikan bahan komodifikasi
isu untuk memicu konflik sosial. Pada awal 2013, konflik yang terjadi di
Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dipicu
oleh isu yang yang berawal dari kecelakaan lalu lintas biasa. Persoalan semakin
membesar ketika isu tersebut disebarkan melalui pesan singkat kepada
masyarakat. Bahkan, konflik di Lampung Selatan, yang mengakibatkan pengerusakan
parah terhadap pemukiman warga transmigrasi asal Bali, di Desa Bali Nuraga,
Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, juga berawal dari kecelakaan
lalu lintas antara sepeda dan sepeda motor. Pada konteks ini, kasus kecelakaan
lalu lintas dapat membawa derivasi korban yang lebih banyak lagi.
Secara umum
kecelakaan lalu lintas yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti
kelalaian manusia, kondisi jalan, kelaikan kendaraan dan belum optimalnya
penegakan hukum lalu lintas. Berdasarkan Outlook 2013 Transportasi Indonesia,
terdapat empat faktor penyebab kecelakaan, yakni kondisi sarana dan prasarana
transportasi, faktor manusia dan alam. Namun demikian, di antara keempat faktor
tersebut, kelalaian manusia menjadi faktor utama penyebab tingginya angka
kecelakaan lalu lintas. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran berlalu lintas
yang baik bagi masyarakat, terutama kalangan usia produktif.
Pemerintah
sebagai penyelenggara negara, turut berupaya untuk meminimalisir tingginya
angka kecelakaan di Indonesia. Melalui program Dekade Keselamatan Jalan
2011-2020, yang dicanangkan oleh Wakil Presiden di Jakarta pada 20 Juni 2011
lalu, pemerintah menargetkan penurunan fatalitas hingga 50 persen pada 2020.
Dengan tahun basis 2010 yang menelan 31.234 korban jiwa, pada 2020 fatalitas
atau korban jiwa kecelakaan lalu lintas seharusnya sekitar 15.000 jiwa. Untuk
mewujudkan Dekade Keselamatan Jalan Indonesia pada 2020, diperlukan
langkah-langkah konkrit pihak-pihak terkait dalam mengimplementasikan UU Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan. Terlebih untuk ikut mewujudkan zero accident pada
2015 yang dicanangkan PBB.
Penilaian
WHO bahwa kecelakaan lalu lintas sudah menjadi pembunuh terbesar ketiga di
Indonesia, perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat, pengusaha angkutan,
pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu waspada atas peringatan
tersebut.
Dalam hal
ini kita perlu mengimpletasi dan mengoreksi diri apakah kita sudah sadar akan
pentingnya tertib lalu lintas, karena setiap orang tidak ingin mengalami celaka
oleh karenanya kita perlu berkonsentrasi tinggi di jalan raya jika tidak kita
akan mengalami kecelakaan, baik itu kecelakaan individu maupun kecelakaan
beruntun. Karena saat anda berkendara ingatlah bahwa keluarga menunggu anda di rumah
.

No comments:
Post a Comment